Minggu, 07 Februari 2016

KULINER HITS VERSI KAKI LIMA






Kali ini saya akan merekomendasikan kembali beberapa tempat yang rasanya harus dicoba. Beberapa tenpat beriku adalah tempat makan kaki lima yang ramai pengunjung dan hits banget di Jakarta, karena makanan kaki lima jadi harus ekstra sabar untuk mendapatkan makanan ini. Sesuai dengan pengalaman makan saya selama ini. Yah, kuliner, makanan lagi, dan makanan enak membuat kita tenang dan menikmati hidup.


1.      Gule Da’ul
Gule yang satu ini benar-benar berada di pinggiran jalan, dan asalnya memang pedagang kaki lima, berada di Jl. Gandarian (belakang), berada dideretan Rumah Sakit Muhammadiyah dan Pom Bensin Taman Puring. Rasanya memang benar-benar gule nendang, dengan kuah santan yang kental, dan isinya dijamin daging semua. Satu porsi gule dengan nasi dihargai dengan Rp 30.000,-. Kuliner yang lagi hits di Jakarta ini sangat ramai sekali, sampai-sampai saya tak kedapatan tempat dan harus dibawa pulang gulenya.

2.      Ayam Bakar Gayantri
Ayam Bakar Gayantri ini memang sudah terkenal di Jakarta, berada di belakang Blok M Mall dan tepat di kuliner blok M yang terkenal dengan gultiknya (Gule Tikungan). Tidak hanya menyajikan menu ayam saja tetapi ada berbagai menu lainnya, seperti ceker, sop, dan menu sayuran. Satu porsi ayam dan nasi dijual dengan harag Rp 18.000,-. Makan di sini harus serba sabar, sabar menunggu dapat tempat, sabar menunggu dilayani, sabar menunggu makanan datang, hehehehe. Sambil menunggu, saya makan piscok di sebalah warung ini, enak piscoknya bisa jadi teman untuk menunggu.

3.      Pecel Sambel Setan Manggarai

Pecel ini bukan pecel dalam artian makanan jawa tetapi pecel di sini menawarkan berbagai lauk, seperti: ayam, ikan, lele, jengkol, pete, cumi kering asin, ati ampela, tempe, tahu, kerupuk, dan berbagai lalapan. Dengan harga yang terjangkau, tempat ini laris manis dikunjungi banyak orang karena sambelnya memang benar-benar setannnnn!!!!! Pedesnya nampolllll..... Pengaaman saya makan berdua dengan menu ayam, cumi, tahu, tempe, dan ati ampala menghabiskan uang Rp 46.000,- lumayan puas dngan porsi banyak dan berbagai lauk serta lalapan. Namun, karena ini makanan dipinggiran Jl. Manggarai Raya jadi tetap harus sabar untuk dilayani dan mendapatkan tempat duduk.


4.      Pisang Goreng Tanduk
Berada tidak jauh dari stasiun manggarai ada warng piggir jalan yang ramai dengan pengunjung yang antri untuk mendapatkan pisang goeng tanduk. Yah, sesuai dengan namanya pisang yang digunakan adalah piang tanduk (panjang dan manis) dengan tepung yang membalut dan makan ketika panas, akhhhhh.... nikamatnya. Untuk menikmati pisang ini kesabaran kita pun harus diuji dengan antrian yang banyak tapi kalau tak mau antri bisa pesan dari hari sebelumnya via telpon. Antrian pisang goreng ini cukup mengesalkan karena pesan pisangnya 200, 100, 50, 40. Hiks..... satu pisang goreng yang enak ini dijual dengan harga Rp 2.500.



Penampakan pisangnya yang matang dan kuning, gurihh.....




5.      Roti Bakar Alend
Roti bakar ini sudah ada sejak 10 tahuna  yang lalu, berada di jalan besar Rempoa, tepatnya dipinggir jalan juga perbatasan antara Rempoa dan Veteran, Jakarta Selatan ini harus dicoba. Roti bakar ini bisa diadu dengan rasa roti bakar yang lagi hits banget sampai yang mahal sekalipun. Warung kaki lima ini tidak hanya menawarkan roti bakar tetapi ada indomie rebus dan goreng dengan berbagai topping seperti telur, keuju, kornet. Warung kaki lima ini menjual makanan dari harga Rp 9.000-15.000.






6.      Bebek Goreng Empuk Bu Tini
Bebek goreng Bu Tini ini tidak hanya menawarkan bebek goreng saja tetapi bebek bakar juga. Dengan harga satu porsi bebek ini Rp 22.000,-. Rasa bebek ini benar-benar empuk dan penuh dengan daging.  Rasa bebek ini bisa diadu dengan bebek yang sudah ternama dan banyak cabangnya. Bebek Bu Tini ni berada tidak jauh dari BPK Penabir 1 Bintaro, tadinya hanya pedagang kaki lima tetapi sekarang sudah pidah ke ruko-ruko persis sebelah unit BRI.







Dan yang terakhir adalah mie ayam pinggir jalan, kalau berkeunjung ke UI Depok dan lapar, mie ayam ini bisa di coba dan ditemukan di antara FIB dan FISIP. Ada yang bilang mie ayam FIB dan mie ayam FISIP karena letaknya dipinggir jalan antara dua gedung fakultas tersebut. Cukup dengan Rp 9.000,- sudah kenyang pake banget, biasanya makan satu porsi berdua kalau sendirian gak kuat kenyanggg banget makk....


Selamat mencoba kuliner kaki lima yang saya rekomendasikan. Ternyata mendapatkan makanan enak membutuhkan perjuangan dari segi kesabaran,waktu, dan semua itu akan membuahkan hasil dari makanan yang kita makan karena gak akan pernah menyesal deh dari rasanya.

Kamis, 28 Januari 2016

Kemampuan Sintaksis pada Anak Usia Lima Tahun di RA (Raudatul Alfa) Melati Legoso, Ciputat



      A.   PENDAHULUAN
Perbedaan kecakapan berbahasa anak sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti faktor kecerdasan, pembawaan, lingkungan, fisik, terutama orang yang bicara, dan sebagainya. Pada usia dini dan seterusnya, seorang anak belajar bahasa pertamanya secara bertahap dengan caranya sendiri. Ada teori yang mengatakan bahwa seorang anak dari usia dini belajar bahasa dengan menirukan. Ada lagi teori yang mengatakan bahwa seorang anak belajar dengan cara penguatan, artinya kalau anak belajar ujaran-ujaran yang benar, ia mendapat penguatan dalam bentuk pujian, misalnya bagus, pandai, dan sebagainya. Dari umur satu sampai dengan satu setengah tahun seorang bayi mulai mengeluarkan bentuk-bentuk bahasa yang telah dapat kita identifiksikan sebagai kata. Ujaran satu kata ini tumbuh menjadi kalimat komplek menjelang umur empat atau lima tahun.[1] Anak usia lima tahun kemampuan berbahasanya dipengaruhi oleh tingkat kecerdasannya, disiplin keluarga, posisi urutan dalam keluarga, jumlah saudara, penerapan dwibahasa, dan perbedaan jenis kelamin, dan lainnya.
Proses pemerolehan bahasa pada anak sangat dominan dimulai pada rentangan usia 0;0— 5;0 tahun. Usia anak 0;0—5;0 adalah masa 'keemasan' otak anak. Di usia inilah otak anak berkembang dan mudah menerima rangsang dari luar. Maka tidak heran bila masa inilah dikenal sebagai golden age (masa keemasan otak bayi). Anak sudah memiliki kemampuan bahasa sesuai dengan peraturan tata bahasa yang baik dan benar.[2] Pada usia lima tahun anak sudah dapat menggunakan kalimat yang terdiri dari lima sampai enam kata, melakukan percakapan tanpa memonopoli pembicaraan, dan dapat menerima suatu pesan serta memproduksi bahasa dengan teratur. Pada anak usia ini anak sudah mampu menjawab pertanyaan seperti ‘Namamu siapa?’, ‘Sudah sekolah belum?’ kemudian ia akan menjawab apa yang dipahaminya, biasanya dengan jawaban yang singkat seperti ‘Ani’ dan ‘Sudah’. Dalam bidang sintaksis, usia lima tahun dapat dikatakan telah memiliki struktur sintaksis yang hampir sempurna. Misalnya ketika mereka bertanya pada gurunya ‘Bu, itu apa?’ atau ‘Bu, bagaimana caranya?’ Anak telah menggunakan kalimat tanya ketika menanyakan sesuatu.
Dalam berkomunikasi, ujaran-ujaran anak lima tahun telah dengan mudah dipahami oleh orang dewasa. Hal ini pengecualian untuk anak dengan kelainan fisik seperti bibir sumbing, juga kelainan dari lahir seperti gagap dan lainnya. Tapi, secara umum pada usia ini mereka telah mampu berkomunikasi secara intensif baik dengan teman-teman sebayanya maupun orang yang lebih dewasa. Seperti berbagi cerita, mengungkapkan kekesalan dan kebahagiaan, dan lainnya.
Taman kanak-kanak merupakan lembaga pendidikan yang memiliki peranan penting dalam membantu anak mempelajari bahasanya. Karena lingkungan berperan dalam mempengaruhi bahasa anak, maka di taman kanak-kanak anak belajar beriteraksi baik dengan teman, maupun guru-guru yang mengajarkan. Dengan guru anak belajar struktur sintaksis yang sesuai, serta penerapannya baik dalam tulisan maupun komunikasi lisan. Pembelajaran di taman kanak-kanak sangat mempengaruhi kemampuan berbahasa anak di jenjang pendidikan selanjutnya. Seperti kemampuan mereka berbicara ketika bertanya, kemampuan membaca pada buku panduan belajar, kemampuan menulis ide-ide, kemampuan bercerita, dan lain sebagainya. Mengingat pentingnya anak dalam menguasai bahasa dan untuk mengetahui sejauh mana kemampuan sintaksis anak, maka penulis melakukan peneliatian yang berkaitan dengan hal tersebut dengan penelitian yang berjudul, “Kemampuan Sintaksis pada Anak Usia Lima Tahun di RA (Raudatul Alfa) Melati Legoso, Ciputat”. Penelitian ini memusatkan perhatian pada bagaimanakah bentuk-bentuk struktur sintaksis anak usia lima tahun di RA (Raudatul Alfa) Melati Legoso, Ciputat dan apa sajakah jenis kalimat yang diproduksi anak usia lima tahun di RA (Raudatul Alfa) Melati Legoso, Ciputat.
Makalah ini berasal dari hasil penelitain ini dilakukan secara deskriptif dengan metode pengamatan dan metode wawancara dalam megumpulkan data. Metode pengamatan diterapkan ketika mengumpulkan data lisan pada waktu terjadi tindak komunikasi antara peneliti dengan narasumber. Melalui metode kualitatif ini akan dideskripsikan kemampuan sintaksis anak usia 5 tahun yang bernama Syed Ahmad Rafi. Teknik analisisnya penggolongan jenis kalimat dan bentuk-bentuk struktur kalimat bahasa Indonesia, dengan tujuan menganalisis jenis kata dan struktur kalimat yang diproduksi oleh anak umur lima tahun. Pemerolehan data tidak melalui perlakuan (eksperimen).Subjek penelitian sebagai sumber data dibiarkan bercakap-cakap secara alamiah. Percakapan alamiah itu diharapkan memunculkan data yang bersifat alamiah. Data alamiah menjadi ciri khas penelitian ini. Data dalam penelitian sederhana ini diperoleh melalui teknik perekaman dan pencatatan. Perekaman dilakukan pada saat terjadi komunikasi antar pewawancara. Hal tersebut berkaitan dengan tujun penelitian ini, yaitu mendeskripsikan struktur sintaksis dan jenis-jenis kalimat yang diproduksi anak usia lima tahun di RA (Raudatul Alfa) Melati Legoso, Ciputat. Dengan manfaat untuk mengetahui bentuk-bentuk struktur sintaksis dan jenis kalimat yang dihasilkan oleh anak usia lima tahun.
     B.   PEMBAHASAN
1.      Kajian Teori
Perkembangan pemerolehan bahasa seseorang dipengaruhi oleh faktor alamiah, perkembangan kognitif, latar belakang sosial budaya, dan faktor keturunan.  Pemerolehan bahasa dalam prosesnya dibantu oleh perkembangan kognitif, sebaliknya kemampuan kognitif akan berkembang dengan bantuan bahasa. Keduanya berkembang dalam lingkup interaksi sosial. Pada dasarnya setiap anak akan melalui tahap-tahap atau urutan yang sama dalam proses pemerolehan bahasa. Anak-anak akan berkembang secara alami sehingga sampai pada kompetensi penuh sesuai dengan perkembsngan biologis dan neurologisnya, Penguasaan unsur tertentu; akan diperoleh terlebih dahulu, baru kemudian diikuti unsur yang lain. Meskipun demikian, pada perkembangan secara individual mungkin saja ada beberapa perbedaan antara anak yang satu dengan anak yang lain karena adanya faktor-faktor lain (lingkungan) yang ikut mengintervensi.
Umur lima tahun merupakan tahap tata bahasa pra dewasa (4-5 tahun), artinya pada tahap ini anak sudah mampu menyusun kalimat yang cukup lengkap meskipun masih ada kekurangan pada kata fungsi.[3] Bahasa sepenuhnya terbentuk pada saat anak usia lima tahun berkenaan dengan penguasaan bahasa yang sudah bebas dari kesalahan-kesalahan bentuk yang mendasar (pada peringkat morfologi). Sementara masa antara tiga sampai sepuluh tahun merupakan masa penyempumaan kekurangan-kekurangan di dalam tata bahasa dan masa pemerluasan kosa kata.[4]
Pada tahun 1960-an orang beranggapan bahwa anak sudah dapat menguasai sintaksis bahasa ibunya pada usia 5 tahun, dan perkembangan selanjutnya hanyalah penambahan kata-kata canggih. Disertasi Carol Chomsky (1968 terbit 1969) melawan anggapan ini. Di dalam penelitian itu ditelusuri perbedaan antara tata bahasa anak usia lima sampai 10 tahun dan tata bahasa orang dewasa, dan tersingkaplah bahwa ada sejumlah sintaksis bahasa Inggris yang belum dikuasai dengan sempurna pada anak usia sekolah dasar. Pendapat ini didukung oleh pengetahuan mengenai perkembangan kognitif anak. Pada anak usia antara lima dan 14 masih terjadi perubahan kognitif yang mendasar. Kalau kita menganut pandangan Piaget, yaitu bahwa perkembangan bahasa berkaitan dengan perkembangan bahasa erat berkaitan dengan perkembangan kognitif, maka masih akan terjadi pula perkembangan bahasa pada anak usia lima tahun.[5]
Pada umumnya, usia 3-4 tahun sudah mampu sudah mampu menghasilkan kalimat-kalimat yang di dalamnya memiliki unsur subjek maupun predikat. Selain itu, pada asa ini anak juga telah menguasai beberapa bentuk kalimat dan fungsi bahasa, seperti kalimat deklaratif, kalimat tanya, dan perintah, dan fungsi bahasa informasi, fungsi bahasa eksplorasi dan fungsi bahasa persuasi.  Dalam hal ini ketiga bentuk kalimat dan fungsi bahasa tersebut merupakan satu kesatuan yang digunakan anak untuk berkomunikasi dengan orang lain untuk menyampaikan tujuannya
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa pemerolehan bahasa adalah proses memperoleh bahasa yang merupakan aktivitas ambang sadar, dan berlangsung di lingkungan masyarakat bahasa target dengan sifat alami dan informal serta lebih merujuk pada tuntutan komunikasi. Pemerolehan bahasa di dalam psikolinguistik adalah proses yang berlangsung di dalam otak seorang anak ketika dia memperoleh bahasa pertamanya atau bahasa ibunya. Pada anak usia lima tahun sudah dapat memproduksi kalimat yang dapat dimengerti oleh orang dewasa walaupun masih dalam bentuk informal.

    C. ANALISIS DAN PEMBAHASAN 
Reduksi Hasil Wawancara
Pewawancara: Kemarin kamu berenang ya Mat?
Ahmad: Bukan besok.
Pewawancara: Di mana?
Ahmad: Di Bali view. Ada yang segini aku (dengan menunjukkan kedalaman kolam renang sedadanya) ekh segini aku, aku nanti yang di 100 meter. Aku udah berani.
Ahmad: Mba Wulan kampusnya di UIN yah?
Pewawancara: Iya.
Pewawancara: Enggaklah. Kamu bisa main bola Mat?
Ahmad: Bisa, jago. Nendang pake kayak ginian nih, kalau mau tinggi nendang pake ginian nih (menunjukkan tungku kiri kakinya)
Pewawancara:  Tadi kamu bangun kesiangannya ya?
Ahmad: Iya kesiangan jam 7 bangunnya. Nanti ada tamu yang datang, bapaknya orang Jambi.
Pewawancara: Paling suka kamu makan apa Mat?
Ahmad: Pizza
Pewawancara: Pernah, kamu sukanya main apa Mat?
Ahmad: Sukanya main PM (polisi maling)
Pewawancara: Bagaimana cara bermainnya Mat?
Ahmad: popopopo siapa yang jadi polisi, linglinglingling siapa yang jadi maling. Mainnya itu yang polisi nangkep malingnya.
Pewawancara: Bola kaki donk
Ahmad: Aku kalo main sepak bola di lapangan basket di pondok ijo masjid, di sininya ada lapangan. MbaWulan, Mba Wulan berani ke jalan raya gak?
Hasil Penelitian
No
Klasifikasi Kalimat[6]
Jumlah
Pola Kalimat
Bentuk Ujaran

1
Klausa yang membentuk
Kalimat Sederhana
3
Prep-Ket.tempat, P-O, dan Objek 
1-4 kata 

Kalimat Luas
5
Pel-S-Ket, Ket.cara-Pel, P-Ket.cara, Ket-Pel-Ket, S-P-O-Ket 
1-12 kata 


2
Berdasarkan fungsinya
Kalimat Deklaratif
10
Prep-Ket.tempat,
P-O,S-Ket, S-Ket.Adj, S-Ket-Pel, Ket, Ket.Adj-P-O, Ket-S-P-Pel, S-P-O-Ket.tempat. Ket-Pel.
1-16 kata 

Kalimat Introgatif
3
S-Pel-Ket.tempat, S-Pel, S-P-Peposisi-Ket.tempat.
1-7 

Kalimat Imperatif
1
Ket 
1-2 


3
Berdasarkan subjeknya
Kalimat Aktif
6
S-P-O- Ket.tempat, Pel-S-P-O, Ket.waktu-Pel-P-Ket, Ket-P-Ket.cara, Ket-Adj-P-O

1-12kata 

Kalimat Pasif
-


4
Berdasarkan kelengkapan unsur ketergantungan dan ketaktergantungan
Kalimat minor
1
Ket 
1 kata 

Kalimat mayor
1
 Ket
1-2 kata 












   a.    Jenis kalimat berdasarkan klausa yang membentuknya
  Kalimat Sederhana
   (a)  Di (Preposisional) Bali view (Ket.tempat perumahan di Legoso). Merupakan kalimat sederhana karena hanya menyajikan satu informasi atau hanya satu klausa, merupakan kalimat sederhana preposisional yang menunjukkan keterangan tempat, meskipun kalimatnya tidak lengkap, jika dijabarkan dan dikaitkan dengan subjek dan predikatnya maka menjadi Ahmad (S) berenang (P) di (Preposisional) Bali View (Ket.tempat)
   (b)  Pizza. Merupakan kalimat sederhana karena hanya menyediakan satu informasi dan keterangan. Meskipun kalimat ini tidak lengkap, jika dijabarkan dan dikaitkan dengan subjek dan predikatnya menjadi Ahmad (S) menyukai (P) makanan pizza(O/Pel), dan merupakan jenis kalimat verbal bitransitif yang memiliki komponen makna tindakan, sasaran, dan pelengkap.
   (c)  Sukanya (P) main PM (polisi maling) (O). Merupakan kalimat sederhana karena hanya menyediakan satu informasi dan keterangan. Meskipun kalimat ini tidak lengkap, jika dijabarkan dan dikaitkan dengan subjek dan predikatnya menjadi Ahmad (S) menyukai (P) permainan polisi maling (O/Pel).
 
Kalimat Luas
   (a)  Ada yang segini aku (Ket/Pel) (dengan menunjukkan kedalaman kolam renang sedadanya) ekh segini aku, aku (S) nanti yang di 100 meter (Ket). Merupakan kalimat luas karena memiliki keterangan lebih dari satu dan menyampaikan informasi lebih dari satu atau dibangun lebih dari satu klausa, jika dijabarkan menjadi, Ahmad (S) melihat (P) kolam renang (O) yang tingginya sedada anak tersebut (Ket) (klausa 1) , kemudian Ahmad (S) akan berenang (P) di kedalaman 100 meter (Ket)
(   (b)  Iya kesiangan (Ket), jam 7 bangunnya (Ket). Merupakan kalimat luas karena memiliki keterangan lebih dari satu dan menyampaikan informasi lebih dari satu, adanya keterangan tambahan pada satu kalimat menandakan kalimat ini merupakan kalimat luas. Selain itu terdapat lebih dari satu klausa yang membentuknya. Ahmad (S) berangkat (P) kesiangan (Ket) (klausa 1), karena ia bangun jam 7 (Ket) (klausa 2.
(c)  Nendang (P) pake kayak ginian nih (Ket), kalau mau tinggi nendang pake ginian nih (Ket) (menunjukkan tungku kiri kakinya). Merupakan kalimat luas karena memiliki keterangan lebih dari satu dan menyampaikan informasi lebih dari satu, penambahan keterangan juga merupakan ciri dari kalimat luas, jika dijabarkan Ahmad (S) menendang (P) bola (O) menggunakan kakinya (Ket 1), jika ingin tinggi maka menggunakan kaki di bagian dekat tumit di kaki kirinya (Ket 2)
(d)  Nanti (Ket.waktu) ada tamu yang datang (Pelengkap), bapaknya orang Jambi (Keterangan). Merupakan kalimat luas karena memiliki keterangan lebih dari satu dan menyampaikan informasi lebih dari satu serta terbentuk lebih dari satu klausa. Jika dijabarkan, Ahmad (S) mengatakan (P) akan ada tamu yang datang (O/Ket (klausa 1)), tamu itu (S) memiliki (P) bapak  yang merupakan orang jambi (O/Ket) (klausa 2)
(e)  Aku (S) kalo main (P) sepak bola (O) di lapangan basket (Ket) di pondok ijo masjid (Ket). Merupakan kalimat luas karena memiliki keterangan lebih dari satu dan menyamaikan informasi lebih dari satu, serta terbentuk leih dari dua klausa yaitu mengenai tempat-tempat yang dikunjungi bapaknya. Jika disempurakan menjadi, Aku (S) bermain (P) sepakbola (O) di lapangan basket (Ket) (klausa 1) yang letaknya di pondok hijau masjid (ket.2) (klausa 2).
Kesimpulan: Karena merupakan bentuk kalimat lisan, maka struktur yang diucapkan Ahmad pun kurang sistematis, maka untuk melihat kalimat itu merupakan jenis kalimat sederhana ataupun luas, maka melihat dari keterangan yang disajikan dari kalimat tersebut, serta merubahnya ke dalam bentuk yang lebih sistematis. Dari hasil analisis, kalimat sederhana yang ditemukan terdapat tiga kalimat yaitu yang menyajikan hanya satu keterangan atau informasi, dan terdapat tujuh kalimat luas yaitu yang menyajikan lebih dari satu keterangan atau terbentuk lebih dari satu klausa.
b.    Jenis kalimat berdasarkan fungsinya
Kalimat Deklaratif
(a)  Di Bali View. Dilihat dari strukturnya hanya berupa keterangan tempat namun jika dilihat dari fungsinya kalimat tersebut merupakan pernyataan yang ditunjukan pada pewawancara, yang merupakan informasi bahawa Ahmad berenang di bali view. Maksud penggunaannya untuk memberi penjelasan, keterangan/perincian pada pewawancara.
(b)  Ada yang segini aku (dengan menunjukkan kedalaman kolam renang sedadanya), ekh segini aku, aku nanti yang di 100 meter. Kalimat yang diucapkan oleh Ahmad ini masih berkaitan dengan yang sebelumnya yaitu mengenai berenang. Kalimat tersebut merupakan kalimat deklaratif karena berupa pernyataan yang diungkaapkan oleh Ahmad yang memberikan informasi bahwa ketika dia berenang di kolam renang menunjukan kedalaman air yang menunjukkan sampai ke dadanya, tapi dia ragu dan menunjuk pada lehernya, dan dia menyatakan bahwa jika nanti berenang laagi dia akan mencoba dikedalaman 100 meter. Dilihat dari struktur yang diungkapkan kalimat tersebut akan kurang dimengerti oleh orang yang tidak mengetahui konteksnya.
(c)  Aku udah berani. Kata tersebut sehaarusnya diungkapkan aku sudah berani, karena kata udah tidak baku, yang baku adalah kata sudah. Kalimat tersebut merupakan kalimat deklaratif yang memberikan informasi bahwa dia sudah tidak takut lagi berenang.
(d)  Nendang pake kayak ginian nih, kalau mau tinggi nendang pake ginian nih (menunjukkan tungku kiri kakinya). Dilihat dari konteksnya kalimat ini sudah berubah pembahasannya, sebelumnya membahas mengaanai kesuakaannya berenang dan kalimat ini membahas mengenai kesukaannya bermaain bola. Dari peengetahuannya bersekolah di sekolah sepak bola dia memberikan informasi pada pewawancara jika ingin menendang bola yang tinggi maka sebaiknya menendang bola dengan tungku kirinya. Sama seperti sebelumnya Ahmad menunjukkan bagian tubuhnya tidak menyebutkan nama bagian dari tubuhnya, ini dikarenakan kurang diketahui Ahmad secara jelas menegani bagaain di tubuhnya, atau mungkin karena dia mengetahuinya namun lupa. Kalimat tersebut strukturnya kuraang tepat begitupula pemilihan kata yang diucapkan tidak baku, seharusnya yang benar adalah kalau mau menendang bola tinggi, maka menendangnya dengan tungku kaki. Kata yang tidak baku adalah pake seharusnya pakai.
(e)  Iya kesiangan jam 7 bangunnya. Pernyataan ini merupakan pemberian keterangan bahwa tadi pagi Ahmad tidak ke UIN karena seperti biasanya hari minggu Ahmad bermain bola di halaman UIN, seperti yang kita tahu setiap hari minggu kampus II UIN ramai dengan orang-orang yang berolahraga. Dan kalimat tersebut memberikan keterangan dan informasi bahwa Ahmad bangun tidur kesiangan karena bangunnya jam 7 pagi.Kalimat tersebut kurang tepat seharusnya iya kesiangan, aku bangun jam 7.
(f)   Nanti ada tamu yang datang, bapaknya orang Jambi. Merupakan kaliamat deklaratif yang diucapkan oleh Ahmad berfungsi sebagai informasi pada pewawancara, bahwa nanti di rumah Ahmad akan kedatangan tamu yang orangtuanya berasal dari Jambi. Subjek pada kalimat tersebut adalah tamu dan kata –nya pada kalimat tersebut merujuk pada tamu tersebut. ini menunjukkan bahwa sebenarnya Ahmad sudah bisa menggunakan subjek (tamu), predikat (datang), objek (bapaknya), dan keterangan (orang Jambi).
(g)  Pizza (Ket). Kalimat tersebut merupakan kalimat atas jawaban dari pertanyaan makanan yang disukai oleh Ahmad. Dan informasi yang didaptakan adalah pizza. Yang berarti Ahmad menyukai pizza.
(h)  Sukanya main PM (polisi maling). Kalimat di atas merupakan kalimat deklaratif, jawaban dari pertanyaan pewawancara. Dari struktur kalimatnya merupakan kalimat yang benar karena dapat dipahami oleh pewawancara dan sesuai dengan konteks dan pertanyaannya. Tetapi kalimat tersebut bukan merupakan kalimat yang benar karena penggunaan kata ganti –nya kurang tepat seharusnya aku atau kata ganti yang menunjuk pada diri sendiri.
(i)    Popopopo siapa yang jadi polisi, linglinglingling siapa yang jadi maling. Mainnya itu yang polisi nangkep malingnya. Kalimat ini pun kalimat deklaratif yang merupakan jawaban dari pertanyaan yang diajukan oleh pewawancara berkaitan dengan pertanayaan sebelumnya. Kalimat tersebut sudah memberikan informasi dan keterangan mengenai cara bermain yang sering dilakukan oleh Ahmad.
(j)    Aku kalo main sepak bola di lapangan basket di pondok ijo masjid, di sininya ada lapangan. Kalimat deklaratif ini pun bersifat memberikan informasi dan keterangan mengenai tempat yang sering digunakan Ahmad dalam bermain bola. Kalimat tersebut merupakan kalimat yang diucapkan Ahmad tanpa ditanya, yang sifatnya memberikan informasi pada pewawancara. Dari struktur kalimatnya penggunaan kata ganti aku sudah digunakan dan sudah cukup baik dan benar hanya saja penggunaan kata ijo seharusnya hijau. Kesalahan yang ditemukan tersebut karena data yang diperoleh dalam pengucapan secara lisan.
Kalimat Interogatif
(a)  Mba Wulan (S) kampusnya (Pel) di UIN (Ket.tempat) yah? Kalimat tersebut merupakan kalimat pertanyaan yang diajukan oleh Ahmad, kalimat pertanyaan yang ditanyakan oleh Ahmad tersebut tidak menggunakan kalimat tanya yang tidak membutuhkan kalimat untuk memeperjelasnya. Kalimat tanya tersebut membutuhkan jawaban ya atau tidak. Yang tidak lain hanya untuk meminta konfirmasi dari yang ditanya.
(b)  Maling (S) itu kayak mana (Pel)? Kalimat introgatif tersebut merupakan kalimat pertanyaan yang meminta jawaban dengan penjelasan, seringkali kita jumpai bentuk struktur kalimat tersebut pada bahasa lisan. Secara bahasa lisan kalimat tersebut dapat dipahami bahwa kalimat tersebut menanyakan maling itu seperti apa? Atau seperti apa maling itu?
(c)  Mba Wulan, Mba Wulan (S) berani (P) ke (Preposisi)  jalan raya (Ket-tempat) gak? Kalimat introgatif tersebut merupakan kalimat pertanyaan yang membutuhkan jawaban ya, atau tidak.
Kalimat Imperatif
(a)  Bukan, besok! (Ket). Kalimat imperatif tersebut merupakan kalimat yang meminta himbauan, yang menyatakan bahwa Ahmad berenangnya tidak sekarang melainkan besok ia akan berenang.
Kesimpulan: jenis kalimat berdasarkan fungsinya ada 4 yaitu kalimat deklaratif, kalimat introgatif, kalimat imperatif, dan kalimat interjektif. Jenis kalimat yang telah diproduksi oleh Ahmad ada 10 kalimat deklaratif, 3 kalimat introgatif, satu kalimat imperatif, dan Ahmad belum memproduksi kalimat interjektif. Kalimat deklaratif yang diungkapkan oleh Ahmad untuk menyatakan atau memberikan informasi sudah cukup baik walaupun ada beberapa kata yang tidak baku yang diucapkan namun strukturnya sudah cukup bagus. Kemudian kalimat introgatif yang diproduksi, Ahmad sudah mampu menyatakan kalimat tanya dengan kata tanya namun penggunaan kata tanya yang tidak terstruktur, kemudian Ahmad juga sudah mampu menggunakan kata tanya untuk jawaban ya atau tidak. Selanjutnya, kalimat imperatif yang diproduksi Ahmad merupakan kalimat himbauan dan larangan dari kata atau kalimat yang sebelumnya tidak sesuai dengan pengetahuannya.
c.    Jenis kalimat berdasarkan subjeknya
Kalimat Aktif
(a)  Aku (S) kalo main (P) sepak bola (O) di lapangan basket di Pondok Ijo Masjid (Ket.tempat). Merupakan kalimat aktif karena subjek yang yang melakukan pekerjaan, aku (S) kalo main (P/V) sepak bola (O) di lapangan basket di Pondok Ijo Masjid. Selain itu juga bisa diuji dengan mengubahnya menjadi kalimat pasif, sepak bola (O) dimainkan (P/V) di lapangan basket di Pondok Ijo Masjid.
(b)  Mainnya itu yang (Pel) polisi (S) nangkep (P) malingnya (O). Merupakan kalimat aktif karena subjeknya melakukan pekerjaan, mainnya itu yang polisi (S) nangkep (P/V) malingnya (O). Selain itu juga bisa diuji dengan mengubahnya menjadi kalimat pasif, mainnya itu malingnya (O) ditangkep (P/V) polisi (S)
(c)  Iya kesiangan jam 7 (Ket) bangunnya (P). Merupakan kalimat aktif karena subjeknya melakukan suatu pekerjaan, iya kesiangan jam 7 (K) bangun (P/V) -nya [Ahmad] (S).Selain itu juga bisa diuji dengan mengubahnya menjadi kalimat pasif, iya kesiangan jam 7 (K) terbangun (P/V) –nya (S).
(d)  Nanti (Ket.waktu) ada tamu yang (Pel) datang (P), bapaknya orang Jambi (Keterangan). Merupakan kalimat aktif karena bisa dipasifkan, nanti ada tamu yang datang menjadi nanti didatangi tamu.
(e)  Kalau mau tinggi (Ket) nendang (P) pake ginian nih (Ket.cara). Merupakan kalimat aktif karena bisa dipasifkan, kalau mau tinggi nendang pake ginian nih, pake ginian nih ditendangnya kalau mau tinggi
(f)   Sukanya (Ket.Adj) main (P) PM (polisi maling) (O). Merupakan kalimat aktif karena subjeknya melakukan pekerjaan, Suka -nya (S) main (P/V) polisi maling (O). Selain itu bisa diuji dengan cara dipasifkan, polisi maling (O) suka dimainkan (P/V) –nya (S).
Kesimpulan:  Dari penelitian di atas, ditemukan enam kalimat aktif yang diucapkan oleh Ahmad dan tidak ditemukan satu pun kalimat pasif yang diucapkan Ahmad.Ahmad disinyalir lebih mudah memahami kalimat aktif daripada kalimat pasif. Hal ini dapat diketahui dari banyaknya kalimat aktif yang diucapkan oleh Ahmad, berbanding nol kalimat pasif yang diucapkannya. Secara umum, struktur kalimat yang diproduksi oleh Ahmad tidak semuanya beraturan, namun peneliti masih bisa menangkap apa yang dimaksud Ahmad.
d.    Jenis kalimat dilihat dari kelengkapan unsur-unsur ketergantungan dan ketaktergantungan.
Kalimat Minor
Pizza (Ket). Kalimat minor ini merupakan kalimat minor jenis pernyataan, yang disampaikan kepada Ahmad atas jawaban dari pertanyaan pewawancara “Paling suka kamu makan apa mat?”
Kalimat Mayor
Bukan besok (Ket). Kalimat yang digunakan Ahmad menjadi kalimat Mayor atau bisa diperluas, karena berdasarkan pertanyaan yang diajukan yaitu “Kemarin kamu berenang ya?” Dengan pertanyaan seperti itu maka jawaban Ahmad bisa diperluas menjadi “aku berenangnya bukan kemarin mba tetapi besok”.
Kesimpulan: Dari analisis kalimat percakapan tersebut maka dapat ditemukan empat kalimat minor dan tiga kalimat mayor. Kalimat minor yang ditemukan bisa saja berupa objek saja, predikat saja, keterangan saja yang berupa pertanyaan, seruan, maupun pernyataan yang diucapkan oleh Ahmad. Dari percakapan atau tuturan kalimat yang disampaikan diketahui bahwa Ahmad bisa memunculkan kalimat minor dan mayor, walaupun dalam struktur yang belum tepat. Tetapi masih bisa dipahami oleh pewawancara.
PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa anak usia 5 tahun sudah mampu mengujarkan berbagai jenis kalimat yang dilihat dari beberapa bentuk sintaksisnya dan menghasilkan pola kalimat yang beragam, yaitu Prep-Ket.tempat,P-O,S-Ket, S-Ket.Adj, S-Ket-Pel, Ket, Ket.Adj-P-O, Ket-S-P-Pel, S-P-O-Ket.tempat. Ket-Pel. S-Pel-Ket.tempat, S-Pel, S-P-Peposisi-Ket.tempat. Hal tersebut merupakan suatu bukti bahwa adanya kompetensi anak dalam pemerolehan bahasa pertamanya telah diperoleh walaupun sebagain besar masih dalam bentuk informal dan struktur yang tidak gramatikal, namun seiring bertambahnya usia mereka akan mengembangkannya ke dalam bentuk yang lebih kompleks.
Pemerolehan sintaksis pada Ahmad sudah cukup baik namun dalam memproduksi kaliman imperatif dan kalimat pasif Ahmad belum bisa. Jika dianalisis lebih lanjut, secara penguasaan kosakata sudah cukup luas, hal tersebut dipengaruhi oleh segi kognitif serta peran lingkungan rumah dan lingkungan sekolahnya. Secara pemahaman dan pemaknaan dari kalimat yang diproduksi Ahmad juga sudah dapat dimengerti oleh lawan bicara namun dalam segi struktural dalam kalimat, Ahmad seringkali tidak menyertakan subjek pada awal kalimat, namun memberikan keterangan atau pelengkap kalimat terlebih dahulu (pada wal kalimat) selanjutnya diikuti dengan subjek, predikat, dan sebagainya. Kemudian, Ahmad hanya menjawab pertanyaan dengan satu kata, misalnya pizza, jawaban tersebut secara struktur tidak lengkap namun dapat dipahami oleh lawan bicara.

C.   SIMPULAN
Secara keseluruhan struktur yang diucapkan Ahmad tid sistematis, dan masih menggunakan bahasa informal. Oleh karena itu, untuk melihat kalimat itu merupakan jenis kalimat sederhana ataupun luas, maka melihat dari keterangan yang disajikan dari kalimat tersebut, serta merubahnya ke dalam bentuk yang lebih sistematis.
Dari jenis kalimat yang diproduksi (a) berdasarkan klausa yang membentuk Ahmad dapat memproduksi kalimat sederhana, terdapat tiga kalimat yaitu yang menyajikan dan hanya satu keterangan atau informasi, dan terdapat tujuh kalimat luas yaitu yang menyajikan lebih dari satu keterangan atau terbentuk lebih dari satu klausa. (b) Berdasarkan fungsinya, Ahmad memproduksi 10 kalimat deklaratif, 3 kalimat introgatif, satu kalimat imperatif, dan Ahmad belum memproduksi kailmat interjektif. (c) Dilihat dari jenis kalimat berdasarkan subjeknya Ahmad memproduksi enam kalimat aktif dan tidak ditemukan satu pun kalimat pasif yang diucapkan Ahmad. (d) Berdasarkan ditemukan satu kalimat minor dan satu kalimat mayor. Kalimat minor yang ditemukan bisa saja berupa objek saja, predikat saja, keterangan saja yang berupa pertanyaan, seruan, maupun pernyataan yang diucapkan oleh Ahmad. Dari percakapan atau tuturan kalimat yang disampaikan diketahui bahwa Ahmad bisa memunculkan kalimat minor dan mayor, walaupun dalam struktur yang belum tepat. Tetapi masih bisa dipahami oleh pewawancara.
Saran
Kemampuan sintaksis anak usia lima tahun sangat dipengaruhi dari lingkungan pemerolehan bahasa pertama khususnya keluarga. Keluarga dapat menjadi agen untuk dapat membiasakan diri dan memberikan contoh menggunakan jenis kalimat dan struktur kalimat yang sesuai artinya yang baik dan benar. Dan bagi guru di RA (Raudatul Alfa) seharusnya sejak dini membiasakan berkomunikasi dengan anak didiknya menggunakan bentuk struktur dan jenis kalimat yang sesuai artinya yang baik dan benar.

DAFTAR PUSTAKA
Chaer, Abdul. Psikolinguistik: Kajian Teorerik.  Jakarta: Rineka Cipta, 2009.
Dardjowidjojo, Soenjono. Psikolinguistik. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2008.
  Ginn, Wanda Y. Jean Piaget - Intellectual Development”. http://www.SK.com.br/.skvyqot.htrnl. (diakses 16 Desember 2015)
Lenneberg E. H. (Ed.) New Direction The Study Of Language. http://www. ualberta.ca/~gemian/ejournal/libben2.html (diakses16 Desember 2015)
Parera, J.D.  Dasar-dasar Analisis Sintaksis. Jakarta: Erlangga, 2009.
Melza Marta. “Pemerolehan Sintaksis Bahasa Minangkabau pada Anak Usia 5 Tahun Di Kambang. Skripsi. Universitas Negeri Padang, 2013.


Lampiran 1
Hasil Wawancara
Latar di rumah pewawancara, subjek penelitian diajak ke rumah dan membuat minuman jelly di dapur.
Pewawancara: Kemarin kamu berenang ya Mat?
Ahmad: Bukan besok!
Pewawancara: Di mana? Di Bali view. Ada yang segini aku (dengan menunjukkan kedalam kolam renang sedadanya), ekh segini aku, aku nanti yang di 100 meter. Aku udah berani.
Pewawancara: Oh kamu sudah bisa renang yah Mat? Iya bisa, paling tinggi segini aku, segini doank nih (menunjukkan kedalam kolam renang).
Pewawancara: Udah gak takut kan? Enggak, yang di dalem yang segininya (sekepala anak tersebut) takut Mba Wulan, nanti nyelem takut aku.
Ahmad: Mba Wulan kampusnya di UIN yah?
Pewawancara: Iya.
Pewawancara: Tadi pagi kamu olahraga di UIN gak Mat? Enggak, tidur. Tidurnya tau noh jam brapa tidurnya aku.
Pewawancara:  Kamu kesiangannya yah? Iya kesiangan jam 7 bangunnya. Nanti ada tamu yang datang, bapaknya orang Jambi.
Pewawancara: Enggaklah. Kamu bisa main bola Mat?
Ahmad: Bisa, jago. Nendang pake kayak ginian nih. Kalau mau tinggi nendang pake ginian nih (menunjukkan tungku kiri kakinya)
Pewawancara: Pakai jari Mat?
Ahmad: Enggak ini (menunjukkan tungku kakinya lagi)
Pewawancara: Kamu main bolanyanya di mana Mat?
Ahmad: Di astam. Astam mau pindah. Mba Wulan makan pake apaan? Pewawancara: Pakai nasi lah
Pewawancara: Paling suka kamu makan apa Mat?
Ahmad: Pizza
Pewawancara: Kamu sukanya main apa Mat?
Ahmad: Sukanya main PM (polisi maling)
Pewawancara: Bagaimana cara mainnya Mat?
Ahmad: Popopopo siapa yang jadi polisi, linglinglingling siapa yang jadi maling. Mainnya itu yang polisi nangkep malingnya. Maling itu kayak mana?
Pewawancara: Maling? Maksudnya gimana Mat?
Ahmad: Maling, siapa yang pernah maling Bapak, Bapak, em Pak, Mbah Putri punya anak gak?
Pewawancara: Iya punya.
Ahmad: Pernah main bola gak Mba Wulan? Pakainya bola apa?
Pewawancara: Bola kaki donk
Ahmad: Aku kalo main sepak bola di lapangan basket di pondok ijo masjid, di sininya ada lapangan. MbaWulan, MbaWulan berani ke jalan raya gak?
Pewawancara: Berani donk.




Lampiran 2
Biodata Subjek Penelitian
Nama Lengkap                     : Syed Ahmad Rafi
Nama Panggilan                  : Ahmad
Tempat, Tanggal Lahir        : Gorontalo, 28 Agustus 2010
Alamat                                    : Nerada Estate Blok C4 No. 2 Ciputat, Tangerang Selatan
Anak ke                                 : Dua dari Tiga Saudara
Pendidikan                           : RA (Raudatul Alfa) Melati, Legoso, Pisangan, Ciputat
Hobi                                        : Main Bola dan Sepeda
Nama Orang Tua                 : Edi Amin, M.A. dan Vera Al-Hasni

Daftar Laman

Ada kesalahan di dalam gadget ini

Mengenai Saya

Foto Saya

"Glasses Girl" dari kecil hingga sekarang, ceria, semangat, dan bersahabat :D

Sahabat Bloq

Diberdayakan oleh Blogger.
Ada kesalahan di dalam gadget ini

 

© 2013 Kepingan Hidup. All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top